Ledok dan Tipat, Makanan Khas Nusa Penida Bali

Penjual makanan khas Nusa Penida di Pasar Mentigi

Penjual makanan khas Nusa Penida di Pasar Mentigi

Senangnya tinggal di Indonesia ini adalah kita bisa menemukan beragam jenis kuliner di satu tempat. Nggak percaya? Coba aja kamu cek di kota tempat tinggalmu. Pasti ada berbagai makanan yang belum tentu ada di kota lain. Bisa jadi malah mungkin ada lebih dari 1000 jenis makanan seperti yang saya temukan di Aceh.

Tapi kali ini saya mau ngomongin Bali nih. Nah, kalo kalian denger tentang kuliner Bali, pasti yang terbayang adalah Ayam Betutu atau Babi Guling ya. Hehehehe. Yah memang dua itu yang paling ngetop sih. Tapi waktu saya berkunjung ke Bali selatan, tepatnya ke pulau Nusa Penida, ternyata di sana juga ada makanan khas yang belum tentu bisa kamu temui di bagian Bali yang lain lho.

Makanan khas Nusa Penida pertama yang saya kenal adalah Ledok. Ledok ini semacam bubur, tapi bahan baku utamanya tidak hanya beras, melainkan ada juga ketela, jagung, kacang, dan masih banyak lagi. Hmmm, kalo menurut saya sih rada mirip dengan Bubur Manado alias Tinutuan ya. Tapi rasanya beda.

Bubur Ledok, makanan khas Nusa Penida ini disajikan dalam sebuah mangkuk yang terbuat dari daun pisang

Bubur Ledok, makanan khas Nusa Penida ini disajikan dalam sebuah mangkuk yang terbuat dari daun pisang

Saya menemukan bubur Ledok ini di Pasar Mentigi, Nusa Penida. Ada sebuah warung di dalam pasar ini yang menjual Ledok dan Tipat Cantok. Pokoknya kalo masuk ke dalam pasar, tanya aja yang jual Ledok di mana, hehehe. Taunya sih gara-gara teman seperjalanan saya, mbak Nina, mengajak saya untuk berburu makanan ini sejak menginjakkan kaki di Nusa Penida. saya sih ngikut aja, hehehe. Ternyata enak!

Penjual bubur Ledok ini menyiapkan sepanci besar di kiosnya untuk para pembeli

Penjual bubur Ledok ini menyiapkan sepanci besar di kiosnya untuk para pembeli

Selain Ledok, saya juga mencicipi yang namanya Tipat Cantok. Nah, tipat catok ini ternyata semacam gado-gado gitu. Tipat atau ketupat yang dipotong-potong lalu dicampur dengan sayur-sayuran bareng bumbu kacang dan beberapa rempah yang diulek. Rasanya sih beda ya dengan gado-gado. Tapi sama-sama enak!

Tipat Cantok yang baru diolah dengan bumbu ulekannya

Tipat Cantok yang baru diolah dengan bumbu ulekannya

Udah lumayan kenyang nih waktu kami berjalan keluar dari Pasar Mentigi. Tapi ternyata kak Mahayanthi, teman seperjalanjalan kami malah mengajak untuk menikmati satu lagi makanan enak khas Nusa Penida. Berlokasi di depan pasar Mentigi persis, ada sebuah lapak kecil yang menjual sate ikan lilit dan pepes ikan. Sate dan pepes ini dimakan bersama dengan ketupat (tipat) dan sayur nangka. Wah ini sih juara lho. Enak banget! Apalagi satenya baru matang, pepesnya masih panas, dan sayur nangka berkuah panas agak pedas. Sedap!

Pepes dan sate lilit bakar di depan Pasar Mentigi

Pepes dan sate lilit bakar di depan Pasar Mentigi

Saya agak lupa sih apa namanya ya. Tapi kalau saya search di Google sih, konon namanya Tipat Jukutaku, hehehe. Nanti saya ricek deh sama kakak-kakak centengnya Nusa Penida hehehe.

Ini jajanan paling juara di Nusa Penida: tipat dengan pepes, sate lilit, ikan dan sayur nangka.

Ini jajanan paling juara di Nusa Penida: tipat dengan pepes, sate lilit, ikan dan sayur nangka.

Yang jelas, makanan-makanan tadi rasanya enak-enak dan harganya pun super terjangkau. Satu porsi Ledok kalo nggak salah hanya sekitar Rp 5000,-, begitu juga Tipat Cantok-nya. Kalau Tipat Kuah dan sate lilitnya saya agak lupa sih (soalnya dibayarin), tapi kayanya sih paling mahal juga Rp 12,000-an seporsi. Pokoknya udah kenyang lah!

Ibu-ibu penjual sayur tipat di depan Pasar Mentigi, Nusa Penida

Ibu-ibu penjual sayur tipat di depan Pasar Mentigi, Nusa Penida

Sarapan saya di Nusa Penida pagi itu sangat sangat memuaskan. Hanya satu sih yang agak saya sesalkan, kan jadi kepikiran kalau udah balik ke pulau Jawa lagi, di mana ya saya bisa menikmati Ledok dan tipat lagi huhuhu. Yuk kita makan-makan di Nusa Penida lagi!

Ditulis pada:September 25, 2016

Komentar: Belum ada Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *